Tumis Cumi Asin, Peuteuy & Cabe Gendot

Cumi asin yang dimasak bersama pete dan cabe gendot,...

Assalamua'laikum...
Wilujeng Enjing...

Peuteuy itu bahasa Sunda, artinya pete. Sedangkan cabe gendot, sampai saat saya menuliskan ini, saya tidak tau jika di daerah lain, persisnya disebut apa. Cabe gendot memang unik. Tidak di semua tempat dapat tumbuh, hanya di dataran tinggi saja. Di Indonesia, yang terkenal yaitu adanya di Lembang dan Dieng. Pantas saja di Sukabumi selatan, tempat kelahiran saya, cabe gendot ini tidak pernah ada. Kemungkinan di tempat temen-temen juga agak sulit ya mencari cabe jenis ini. Tapi kalo temen-temen main ke Bandung dan tiba-tiba nyasar ke pasar tradisionalnya, pasti selalu nemu cabe gendot. 

Dari salah satu literatur, disebutkan bahwa cabe gendot merupakan perkawinan dari paprika dan cabe hijau. Penampakannya lebih gendut dari cabe hijau tapi jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan paprika. Bentuknya bulat agak lonjong dengan ujung yang tumpul dan panjangnya sekitar 3-4 cm. Wikipedia mengidentifikasi cabe gendot ini sama dengan habanero. Hebanero sendiri merupakan jenis cabe-cabean yang berasal dari Cuba, kemudian menyebar hingga ke Semenanjung Yucatan. Berkat orang-orang Spanyol, Habanero berkembang ke seluruh dunia. Namun, pada abad ke 18, ilmu taksonomi salah mengidentifikasi cabe ini  karena menggap bahwa asal usulnya dari Cina, sehingga kemudian diberi nama Capcisum Chinese, artinya cabai dari Cina.

Kalau dilihat-lihat [dan dirasa-rasa pastinya], saya sendiri kurang yakin jika cabe gendot identik dengan habanero. Mirip mungkin iya... tapi kalo saya baca-baca lagi [di wikipedia dan sumber lain], konon katanya habanero memiliki tingkat kepedasan 100.000-350.000 SHU [Scoville Heat Unit] atau setara dengan 2-4x kepedasan cabe rawit. Saya memang belum pernah makan habanero tapi kalo dilihat dari skala Scoville itu tadi, berarti lumayan pedas juga. Padahal, cabe gendot tidaklah sepedas itu. Memang pedas kalo dibandingkan dengan paprika, tetapi tidak lebih pedas jika dibandingkan dengan cabai rawit merah. Jadi, pedasnya sedang-sedang aja. Cukup untuk menghangatkan mulut dan merangsang selera makan, tapi tidak sampai membuat lidah dan mulut mengalami sensasi terbakar seperti halnya ketika menyantap cabai rawit, kecuali mungkin jika jumlah yang dimakannya sebakul, ya bisa juga kali heheh.... 




Jadi sesungguhnya jenis cabe apakah cabe gendot itu? jawabannya, entahlah... ada juga yang mengidentifikasi jika cabe gendot sama dengan rocoto pepper, tapi pas saya lihat [di gugel pastinya] rocoto pepper terlihat lebih bulat, warna merahnya lebih terang [lama kelamaan cabe gendot juga berubah merah] dengan biji lebih hitam dan lebih banyak. Saking banyaknya jenis cabe-cabean, saya sendiri sampai bigung, soalnya rata-rata mirip sih ya... gendut bulet gitu. Tapi ada yang menarik saat saya membaca artikel ini, disebutkan bahwa di Tana Toraja, khususnya di Engrekang, ada jenis cabe yang sangat dicari orang di sana karena cabe ini selalu menjadi pilihan pertama sebelum memilih jenis cabe yang lain. Orang Toraja  menyebutnya dengan cabe Kattokon/kaddokon. Asal mula cabe ini juga masih tidak begitu jelas, konon katanya dibawa dari Jepang. Memang... kalo melihat dari segi fonetisnya, pengucapan kattokon atau kaddokon sangat Jepang sekali ya... tapi, entahlah... Nah, menariknya, menurut saya kalo dilihat dari gambar yang ada di situs tersebut, cabe gendot ini mirip sekali dengan kattokon atau kaddokon dan memiliki karakter yang sama pula, yaitu hanya tumbuh baik jika ditanam di daratan tinggi. Jadi kesimpulannya, cabe gendot adalah katokon atau kaddokon? enggak tau juga *nyengir

Baiklah cukup sampai disini ulasan tentang cabe-cabeannya, daripada tambah pusing mending kita ngebahas resep aja.  Cabe gendot, -atau apapun itu disebutnya di tempat lain-, adalah jenis cabe yang tidak hanya bisa menjadi pelengkap bumbu tetapi bisa juga menjadi bahan utama masakannya. Maksudnya, cabe gendot itu bisa dibikin tumisan juga, karena seperti halnya paprika, cabe gendot memiliki tekstur yang kruncy dengan rasa yang tidak begitu pedas sehingga enak dan masih nyaman ketika dimakan, tidak sebegitu mengerikan seperti halnya mengunyah cabe biasa. Nah kali ini saya memadukan cabe gendot dengan peuteuy alias pete dan cumi asin. Asli, ini perpaduan yang asyik banget. Pete menyumbang aroma yang enak, cabe gendotnya merangsang selera makan dan cumi-seperti halnya makanan laut yang lain-, memberikan cita rasa yang gurih. Pedooo pokonamah...

Cabe gendot  memang cocok untuk dipadukan dengan berbagai jenis bahan. Selain dipadukan dengan cumi, bisa juga dengan teri atau menjadi pelengkap pada sayur lodeh, tumis kangkung, genjer, ulukutek, dan berbagai tumisan lain. Tapi jangan coba-coba membuat sambel dengan cabe gendot, karena konon katanya, rasanya jadi aneh. Potong cabe gendot dengan ukuran agak besar dengan durasi memasak yang  tak perlu lama lama agar teksturnya yang kruncy masih tetap terasa saat hidangan disajikan. Bahkan dulu sewaktu saya masih ngekost, teman sekost-an saya sering menyantap cabe gendot ini begitu saja dengan garam, setelah sebelumnya digoreng sebentar dengan sedikit minyak...heheheh... Eh yah, kalo misalkan temen-temen mau nyoba resep ini, tapi susah nyari cabe gendot, sebaiknya jangan diganti dengan paprika, karena aromanya terlalu membule... saran saya pilihlah cabe hijau  yang lebih netral aromanya...  terus, cumi asin sebelum dimasukan ke dalam tumisan sebaiknya digoreng dulu, supaya tidak berbau amis, tapi menggorengnya jangan lama-lama karena cumi akan menjadi alot apabila dimasak terlalu lama.

Bagaimana, tertarik mencoba aneka masakan dari cabe gendot? baiklah kita mulai dengan resep tumis cumi ini dulu... saya yakin, sekali mencobanya, pasti suka... ^^



TUMIS CUMI ASIN, PEUTEUY & CABE GENDOT





100 gr cumi asin, seduh dengan air panas, buang isi perutnya, kemudian goreng sebentar
7 buah cabe gendot, belah dua
3 buah cabe rawit setan [tambahkan atau kurangi sesuai selera]
1 tangkai daun bawang iris kasar
1 buah tomat, potong kasar
2 cm laos, geprek
3 lembar daun salam
1 papan pete
1/4 sdt kaldu bubuk
3/4 sdm gula merah, sisir
Garam [hati-hati saat menambahkan garam, karena cuminya sendiri sudah asin]
4 btr bawang merah, iris halus
3 siung bawang putih, iris halus
1/3 gelas air
Minyak untuk menumis





Panaskan minyak, tumis bawang hingga harum, masukan daun salam dan laos, tambahkan pete, tomat, daun bawang, dan cabe gendot. Aduk rata. Tambahkan air, masukan gula, garam dan kaldu bubuk. Tambahkan cumi, aduk rata. Cicipi, paskan rasanya dengan selera masing-masing. Angkat, sajikan.

Selamat mencoba, semoga bermanfaat...



Salam,




8 comments :

  1. Balasan
    1. ayuuuu bikin...gampang tapi huh hah pedes dan nikmat mbak:)

      Hapus
  2. hay hay teteh cayang... hawayu...? pasti kangen dengan saya yah...? hahaha.....

    aduh etah cabenya nyinggung perasaan dan body nih... qiqiqi... aku belum pernah liat cabe ky gitu....:(

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi alhmdllh baik teh... heuheu
      iya yang tifus mah jauh2 dl dari cabe... hehe iya di Cirebon mah pasti agak susah nyari cabe gendot, ya...:D

      Hapus
  3. Makannya pake nasi yg anget2 pasti enak, dan aku pikir tadi itu paprika kecil2 tapi ternyata cabe :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa... amboii bangeed pudes mas..:D
      kalo dipanggang aromanya kayak paprika, kalo ditumis rasanya kayak cabe hijau kepaprika-paprika-an...*apasih:D

      Hapus
  4. Wiii..dahsyat resepnya mbak, mau bikin ah. Thank's ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa... mudah2an suka ya ...
      makasih dah mampir...^^

      Hapus

Silahkan tinggalkan komentar jika berkenan...kalau kebaca Insyaalloh dibales, kalau enggak jangan ngambek, berarti yang punya blog lagi kelilipan nggak ketauan ada komentar nyelip^^